Rabu, 24 Desember 2014

Makalah Nuzulul Qur'an


NUZULUL QUR’AN

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu: Abdullah Muzakki, Lc. M. Hum.




Disusun Oleh :
Highya Syamsidar Asror                     ( 1403046047 )
Danang Abdul Rachmansyah               ( 1403046048 )
Kirana Devi Kusmaningtyas                 ( 1403046049 )
Sopianah                                             ( 1403046050 )
Rizky Harmiyanti                                 ( 1403046052 )
Ainiyatus Sholihah                                ( 1403046080 )

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014



BAB I

PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang
Sering kita perhatikan banyak kalangan telah lama atau bahkan baru memulai mempelajari ilmu Al-Qur’an, di dalam mempelajari ilmu Al-Qur’an, ada beberapa hal yang penting untuk dipelajari, salah satunya adalah Bagaimana Al-Qur’an Diturunkan. Dengan mengetahui bagaimana proses turunnya Al-Qur’an kita dapat mengerti bagaimana sejarah turunnya Al-Qur’an begitupula Hikmah diturunkannya Al-Qur’an.
Kebanyakan kalangan pastilah pernah mendengar kata Nuzulul Qur’an. Namun beberapa dari kalangan hanya mengetahui Nuzulul Qur’an secara pengertian yang sempit. Oleh sebab itu, kami berupaya untuk menciptakan makalah ini yang bertujuan untuk memberikan wawasan lebih kepada berbagai kalangan yang belum mengerti sepenuhnya tentang arti kata Nuzulul Qur’an, serta memberikan wawasan tambahan kepada berbagai kalangan yang telah mengerti tentang arti kata Nuzulul Qur’an.
Tetapi sebelum kita mempelajarai Al-Qur’an lebih dalam lagi, alangkah baiknya kita mengetahui Al–Qur’an terlebih dahulu dengan cara  mengetahui tentang Pengertian Peristiwa Turunnya Al-Qur’an ( Nuzulul Qur’an ), Bagaimana Sejarah Turunnya Al– Qur’an, dan Apa saja Hikmah yang terkandung didalam Turunnya Al-Qur’an yang berangsur- angsur.

B.     Rumusan Masalah
A.  Apa Pengertian dari Nuzulul Qur’an ?
B.   Bagaimana Sejarah Nuzulul Qur’an ?
C.   Apa Hikmah Diturunkannya Al – Quran Secara Gradual ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Nuzulul Qur’an
Sebagian besar umat islam pastinya pernah mendengar Nuzul Al-Qur’an. Sebagai contoh, umat islam yang berada di Indonesia, setiap tahun mereka memperingati Malam Nuzul Al-Qur’an ( Nuzulul Qur’an ). Akan tetapi, ada kemungkinan, tak semua orang yang pernah mendengar kata Nuzul Al-Qur’an itu mengetahui hakikatnya. Nuzulul Qur’an secara etimologisnya mengandung dua kata, yaitu kata Nuzul dan Al – Qur’an. Kata Nuzul yang berasal dari kata Nazala yang berarti “ Turunnya / meluncurnya suatu benda dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah “,
Dan ada para ulama yang berpendapat jika kata Nuzul berarti Singgah / Tiba di tempat tertentu. Dan ada juga para ahli yang berpendapat bahwa kata Nuzul tidak hanya mempunyai dua makna saja, namun beliau menginventarisasi menjadi Lima buah makna. Dua diantaranya yang telah disebutkan diatas. Sedangkan dua lagi adalah Tertib / Teratur & Pertemuan. Dan yang terakhir
( kelima ) Nuzul berarti “ Turun secara berangsur –angsur & Terkadang Sekaligus “.
Sedangkan kata Al-Qur’an dapat diartikan “ Kalam Allah / Kalamullah Subhanahu Wa Ta’ala “ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dalam Bahasa Arab, Dimulai dari Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Nas, Membacanya merupakan ibadah, Susunan kata dan Isinya merupakan Mu’jizat, Termaktub di dalam mushaf dan Dinukil secara Mutawatir. Predikat “ Kalam Allah “ untuk Al-Qur’an ini bukanlah datang dari Nabi Muhammad, ataupun Sahabat Nabi, Ataupun dari para Ilmuan – Ilmuan. Melainkan dari Allah SWT yang memberikan nama Kitab Suci Agama Islam ini Al-Qur’an sejak ayat pertamanya turun. Yaitu pada Surah Al-Alaq :
 


Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan.
( Al-‘Alaq, ayat 1 )
Dan pada Surah lain, Allah juga telah memperkenalkan, bahwa kitab suci agama ini bernamakan Al-Qur’an dengan jumlah pengulangan mencapai sekitar 68X, yang diantaranya terdapat pada surah : Al-Muzammil, ayat 1 – 4. Al-Baqarah, ayat 185. An-Nisa’, ayat 82. Al-Ma’idah, ayat 101. Al-An’am, ayat 19. dan Al-A’raf, ayat 204.[1]

Dalam Definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa Al-Qur’an mengandung
unsur  – unsur sebagai berikut :
1.        Lafadz – lafadznya berbahasa Arab.
2.        Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
3.        Disampaikan secara Mutawatir / Berangsur – angsur.
4.        Ditulis dalam Mushaf, dimulai dengan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Naas.
Maka dari definisi – definisi diatas dapat kita rangkai menjadi pengertian dari Nuzulul Qur’an. Nuzulul Qur’an dapat kita artikan sebagai Peristiwa turunnya / diterimanya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa potongan ayat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an turun pada :[2]
1.             Pada Bulan Ramadhan.



Artinya : ( Beberapa hari yang ditentukan itu ialah ) Bulan Ramadan, Bulan yang di dalamnya diturunkan ( Permulaan ) Al Qur'an.........  ( Al Baqarah, ayat 185 ).

2.             Pada malam yang diberkahi.


Artinya : Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. ( Al-Dukhan, ayat 3 )

3.             Pada malam Al-Qadar.
Artinya : Sesungguhya Kami menurunkannya ( Al Qur’an ) di malam Al-Qadar / Malam Kemuliaan. ( Al-Qadar, ayat 1 )
            Berdasarkan 3 ayat diatas, dapat kita simpulkan jika Al-Qur’an turun secara sekaligus, yakni pada Bulan Ramadhan di malam Al-Qadar, di suatu malam yang penuh berkah. Namun bukan hanya Al-Qur’an sajalah yang diturunkan di Bulan Ramadhan, namun juga :
1.        Kitab Taurot         : Pada 6 hari Setelah Ramadhon
2.        Suhuf ibrohim      : Pada 1 hari Setelah Ramadhon
3.        Kitab Injil             : Pada 13 hari Setelah Ramadhon
4.        Kitab Zabur          : Pada 12 hari Setelah Ramadhon

Jumhur Ulama sepakat bahwa pengertian yang dimaksudkan ketiga ayat diatas menyangkut turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Al-Mahfuzh, ke suatu tempat yang disebut Sama’ Al-Dunya / lebih tepatnya Bait al-‘Izzah. Kemudian Malaikat Jibril membawa Lafadz Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur – angsur[3], seperti pada firman Allah SWT :


Artinya : Dan Al Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan.....
 ( Al-Isra’, ayat 106).

Baik Jibril yang menyampaikan / Nabi Muhammad sendiri yang menerima Kalamullah tersebut, sama sekali tidaklah ada otoritas untuk menyusun bahkan mengubahnya.

Tentang rentang waktu Nabi Muhammad menerima Al-Qur’an, Abd al-Wahhab Abd al-Majid Ghazlan dalam Mabahits fi ‘Ulul Qur’an, beliau mengemukakan tiga pendapat, yaitu : Pertama : Bahwa Al-Qur’an diturunkan berangsur – angsur selama 20 tahun. Kedua :  Bahwa Al-Qur’an diturunkan berangsur – angsur selama 23 tahun ( 22 Tahun 6 Bulan ). Ketiga : Bahwa Al-Qur’an diturunkan berangsur – angsur selama 25 tahun.


B.            Sejarah Nuzulul Qur’an
Bagi tiap - tiap kalangan, mungkin sejarah turunnya Al-Qur’an tidaklah begitu asing bagi mereka. Namun belum tentu tiap – tiap kalangan mengerti dalam memahami sejarah turunnya Al-Qur’an. Sejarah Nuzulul Qur’an / Turunnya Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nab dapat i Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya yang diturunkan secara berangsur-angsur. Al-Qur’an sendiri merupakan “ Kalamullah / Kalam Allah “ yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Karena di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. Sedangkan bagaimana cara – cara Al-Qur’an tersebut diterima Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun / 22 tahun 2 bulan 22 hari ?[4]
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain:
1.        Melalui Perantara Malaikat
Wahyu yang diturunkan dengan cara ini yang terkenal ada dua cara yaitu :
a.       Jibril menampakkan wajahnya dan bentuknya yang asli. Cara seperti ini terjadi ketika Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama, Surah Al-Alaq Ayat 1-5.
b.      Jibril menyamar seperti seorang laki-laki yang berjubah putih. Misalnya ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang Imam, Islam, Ihsan, dan Tanda-tanda Hari Kiamat.

2.        Tanpa Perantara Malaikat ( Secara Langsung )
Artinya, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dengan dua cara pula, yaitu dengan :
a.    Melalui mimpi yang benar, misalnya ketika turun wahyu Surah
Al-Kautsar Ayat 1-3. Contoh lain adalah wahyu tentang penyembelihan Ismail oleh ayahnya, Ibrahim, yang diuraikan dalam Surah Al-Shaffat Syat 101-112
b.    Langsung dari Allah SWT
     Adapula yang menyatakan bahwa cara ini adalah turunnya wahyu melalui balik hijab. Misalnya wahyu Allah kepada Nabi Musa yang diceritakan dalam Al-Quran Surah Al-A’rof Ayat 143 dan An-Nisa Ayat 164, Firman Allah SWT :


Artinya : Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. ( QS. An-Nisa, ayat 164 )

               
Contoh lain adalah wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW pada malam Isra dan Mi’raj tentang perintah Sholat Lima Waktu. Menurut Al-Qathan cara seperti ini tidak didapati satu ayat pun dalam Al-Quran.Cara yang lain lagi adalah seperti Gemercikan Lonceng. Menurut jumhur ulama cara tersebut termasuk yang melalui perantara malaikat. Namun contohnya belum didapati.
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi Muhammad SAW bermukim di Mekah ( 610-622 M ) sampai Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat ( Allamah M.H. Thabathaba'i (1987). Mengungkap Rahasia Al-Qur'an. Bandung: Mizan. ), yaitu :




01. Al'Alaq
02. Al-Qalam
03. Al-Muzammil
04. Al-Muddatstsir
05. Al-Fatihah
06. Al-Lahab
07. At-Takwir
08. Al-A'la
09. Al-Lail
10. Al-Fajr
11. Adh-Dhuha
12. Al-Insyirah
13. Al-'Ashr
14. Al-Aadiyat
15. Al-Kautsar
16. At-Takatsur
17. Al-Ma'un
18. Al-Kafirun
19. Al-Fiil
20. Al-Falaq
21. An-Nas
22. Al-Ikhlas
23. An-Najm
24. 'Abasa
25. Al-Qadar
26. Asy-Syamsu
27. Al-Buruj
28. At-Tin
29. Al-Quraisy
30. Al-Qariah
31. Al-Qiyamah
32. Al-Humazah
33. Al-Mursalah
34. Qaf
35. Al-Balad
36. Ath-Thariq

37. Al-Qamar
38. Shad
39. Al-A'raf
40. Al-Jin
41. Yaasin
42. Al-Furqan
43. Fathir
44. Maryam
45. Thaha
46. Al-Waqi'ah
47. Asy-Syura
48. An-Naml
49. Al-Qashash
50. Al-Isra
51. Yunus
52. Hud
53. Yusuf
54. Al-Hijr
55. Al-An'am
56. Ash-Shaffat
57. Lukman
58. Saba'
59. Az-Zumar
60. Ghafir
61. Fushshilat
62. Asy-Syura
63. Az-Zukhruf
64. Ad-Dukhan
65. Al-Jatsiyah
66. Al-Ahqqaf
67. Adz-Dzariyah
68. Al-Ghasyiyah
69. Al-Kahf
70. An-Nahl
71. Nuh
72. Ibrahim
73. Al-Anbiya
74. Al-Mu'minun
75. As-Sajdah
76. Ath-Thur
77. Al-Mulk
78. Al-Haqqah
79. Al-Ma'arij
80. An-Naba'
81. An-Nazi'at
82. Al-Infithar
83. Al-Insyiqaq
84. Ar-Rum
85. Al-Ankabut
86. Al-Muthaffifin
87. Al-Zalzalah
88. Ar-Rad
89. Ar-Rahman



Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi Muhammad  SAW hijrah ke Madinah ( 622-632 M ). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat ( Allamah M.H. Thabathaba'i (1987). Mengungkap Rahasia Al-Qur'an. Bandung: Mizan.),yaitu: “


01. Al-Baqarah
02. Al-Anfal
03. Ali 'Imran
04. Al-Ahzab
05. Al-Mumtahanah
06. An-Nisa'
07. Al-Hadid
08. Al-Qital
09. Al-Insan
10. Ath-Thalaq
11. Al-Bayyinah
12. Al-Hasyir
13. An-Nur
14. Al-Hajj
15. Al-Munafiqun
16. Al-Mujadalah
17. Al-Hujurat
18. At-Tahrim
19. At-Taghabun
20. Ash-Shaf
21. Al-Jum'at
22. Al-Fath
23. Al-Ma'idah
24. At-Taubah
25. An-Nash


Ayat Al-Qur’an pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW adalah 5 Ayat pertama Surat Al-‘Alaq , Ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhalwat di Gua Hira di puncak Jabal Nur, sebuah Gua yang terletak di pinggiran sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun, 13 tahun sebelum Nabi Muhammad Hijrah[5]. Rasulullah SAW bersabda : “ Jibril membacakan kepadaku berdasarkan satu huruf lalu aku pun minta ditambahkan. Dan aku terus minta ditambahkan dan Jibril menambahkan untukku sampai berakhir dengan tujuh huruf.” ( H.R Bukhori dan Muslim )[6]

Pendapat yang lain mengatakan, bahwa ayat yang pertama diturunkan adalah Surat Al-Mudatstsir berpedoman dengan Hadits Riwayat Asy-Syaikhani, yang diterima dari Abi Salamah bin Abdurrahman. Dia berkata, Saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah “ Ayat apa yang turun sebelum segalanya ? Jabir berkata, Saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah: “ Ya Ayyuhal Mudatstsir. ” Kemudian aku berkata, atau “ Iqra’ Bismi Rabbika” ? jabir berkata: “ Saya ceritakan kepadamu apa yang diceritakan oleh Rasulullah kepada kami.” Rasulullah berkata “ Aku mengasingkan diri di gua Hira, kemudian aku dipanggil oleh seorang, maka aku menoleh ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri tapi tiada siapa-siapa. Selanjutnya aku melihat ke atas, ternyata ada Jibril, kemudian aku menggigil, aku lalu datang kepada Khadijah. Aku menyuruh orang-orang menyelimutiku. Maka Allah SWT menurunkan ayat “ Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir. ”
Al-Qur’an di turunkan oleh allah SWT dalam tiga tahapan sebagai berikut.
1.      Tahap pertama, al-Qur’an diturunkan ke Lauhul Mahfuzh.pada tahap ini al-Qur’an diturunkan dengan cara dan pada waktu yang tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT sendiri.  

2.      Tahap Ke-dua al-Qur’an diturunkan ke langit dunia. Pada tahap ini al- Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah dilangit dunia secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan.
3.      al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Pada tahap yang terakhir ini, Al-qur’an diturunkan dari langit dunia kedalam hati Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril secara berangsur angsur.


C.    Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Gradual
Hikmah diturunkannya al-Qur’an secara berangsur-angsur antara lain adalah sebagai berikut :
1.    Bahwa diturunkannya al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah untuk menguatkan dan mengokohkan hati Rasulullah sendiri. Sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya :

 





Artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah[1066] supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (Q.S Al-Furqan: 32)

Firman Allah    dalam ayat itu dapat ditafsirkan dengan beberapa pengertian, yaitu :
a.       Diturunkannya al-Qur’an dengan berangsur-angsur ini, adalah untuk memantapkan ayat-ayat itu dalam hati Rasulullah. Cara penurunan ayat-ayat semacam itu lebih memudahkan bagi beliau untuk dapat meneria, memahami, dan menghafalkan dengan cepat ayat-ayat itu ketika beliau menerima wahyu mengingat beliau adalah seorang Nabi yang ummi, dan untuk kemudian beliau dapat pula mengajarkan dan menyampaikan ayat-ayat tersebut kepada kaum muslimin secara teratur dan lebih intensif. Tidak demikian halnya seandainya al-Qur’an itu diturunkan sekaligus selesai.
b.      Dapat juga diartikan bahwa turunnya al-Qur’an secara demikian itu adalah untuk mengokohkan hati Rasulullah dan memperkuat tekad dan semangat juangnya dalam melaksanakan tugasnya sebagai Rasul.
Pada saat-saat diperlukannya suatu penyelesaian bagi masalah-masalah yang beliau hadapi, ketika itu turunlah ayat untuk memberikan penyelesaian masalah itu. Dan pada saat-saat beliau menghadapi bahaya dan ancaman-ancaman dari kaum kafir, datanglah firman Allah memberikan sugesti dan jaminan bagi beliau. Hal ini sudah barang tentu mengokohkan hati dan semangatnya dalam melanjutkan perjuangan.
Selain itu, dengan turunyya al-Qur’an secara berangsur-angsur itu berarti malaikat jibril harus mendatangi Rasulullah berulang-ulang kali. Kedatangan Jibril inipun memberikan sokongan moril yang tidak kecil artinya bagi Rasulullah. Misalnya ketika terjadinya Fatratul Wahyi, dimana Rasulullah tidak menerima wahyu dalam jangka waktu yang agak lama, sedang perjuangan semakin sengit, sehingga Rasulullah hampir-hampir berputus asa, dan merasa ditinggalkan oleh Tuhannya seorang diri, apakah beliau betul-betul utusan Allah atau tidak, justru pada saat itulah jibril muncul dan berkata kepada beliau : “Hai Muhammad, engkau adalah benar-benar utusan Allah”. Penegasan jibril ini mengembalikan keyakinan beliau tentang kerasulannya, dan melenyapkan keraguan-keraguan dan keputus-asaan beliau, serta mengokohkan tekad dan semangat juangnya.
Pada saat-saat kaum kafir menuduh bahwa al-Qur’an itu adalah ciptaaan Muhammad, dan mereka tidak mau percaya bahwa beliau adalah utusan Allah, dan bahwa al-Qur’an itu adalah wahyu dari Allah, maka turunlah firman Allah yang menantang orang-orang kafir itu supaya mereka membuat pula surat-surat yang setara dengan surat-surat al-Qur’an it, dan ternyata mereka itu tidak mampu, maka kenyataan itu memperlemah posisi lawan, dan memperkuat posisi Rasulullah dan sekaligus membuktikan tentang kerasulan beliau, dan bahawa al-Qur’an itu benar-benar adalah wahyu dari Allah. Hal ini sudah barang tentu merupakan kemenangan moral yang amat penting bagi Rasulullah dan menambah kuatnya tekad dan semangat beliau. Seandainya al-Qur’an diturunkan sekaligus maka keadaannya tidaklah akan sedemikian itu.

2.        Hikmah lainnya ialah, bahwa dengan turunnya al-Qur’an secara bertahap itu, juga memudahkan bagi kaum muslimin yang pada masa itu umumnya masih buta huruf, untuk mempelajari dan menghafalkan serta menerangkan ayat-ayat al-Qur’an itu dalam kehidupan mereka sehari-hari dan hal ini telah ditegaskan Allah dalam Firmannya :


Artinya : “Dan Al Quran itu Telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian”. (Q.S. Al-Isra: 106)

Andaikata al-Qur’an diturunkan sekaligus, niscaya amat sukarlah bagi mereka untuk mempelajari, menghafalkan ayat-ayat tersebut dalam suasana kebuta-hurufan, apalagi untuk menerapkan dalam kehidupan mereka.[7]
Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami bahwa ia berkata: Kami diberitahu oleh orang-orang yang dahulu mengajarkan al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan, Ibnu Mas’ud dan lainnya, bahwa mereka apabila mempelajari sepuluh ayat dari Nabi saw, maka mereka tidak akan melanjutkannya sebelum mengetahui kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata : “Maka dengan demikian kami mempelajari ilmu al-Qur’an dan mengamalkannya sekaligus.”[8]

3.        Begitu juga, turunnya al-Qur’an secara bertahap itu adalah untuk menyesuaikan dengan kepentingan Rasulullah dan kaum Muslimin serta perkembangan-perkembangan yang mereka alami dari masa ke masa. Misalnya, pada waktu umat Islam masih lemah dan jumlahnya masih sedikit, tidaklah mungkin bagi mereka untuk melakukan konfontrasi fisik terhadap musuh-musuh Islam. Sebab itu, ayat-ayat yang berisi perintah berperang belum diturunkan Allah. Tetapi, setelah jumlah umat Islam menjadi besar dan mereka telah memiliki memiliki potensi fisik yang riil, maka turunlah ayat-ayat yang mengijinkan untuk mengangkat senjata guna mempertahankan diri, dan untuk mengamankan jalannya dakwah Islamiyah. Lagi pula suatu petunjuk apapun suatu peraturan yang diberikan tepat pada waktu benar-benar ia dibutuhkan, akan dirasakan nilainya lebih tinggi, manfaaatnya lebih besar, dan wibawanya lebih kuat.
4.        Selain itu, turunnya al-Qur’an secara bertahap itu, adalah sangat sesuai dengan sunnatullah yang berlaku di alam ini. Yaitu sunnah bahwa “segala sesuatu harus terjadi dengan bertahap”. Dari kecil berangsur-angsur menjadi besar. Dari sedikit berangsur-angsur menjadi banyak. Dari miskin berangsur-angsur menjadi kaya. Dan dari bodoh berangsur-angsur menjadi pandai. Sesuatu yang terjadi secara bertahap, akan dapat berjalan dengan lancar, dan dapat diterima dengan baik, serta mendatangkan faedah yang kita harapkan. Sebaliknya, sesuatu yang terjadi secara mendadak dan drastis, niscaya akan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan masyarakat, dan akan menimbulkan rasa anipati terhadap perubahan-perubahan yang kita adakan, sehingga apa yang kita harapkan tidak akan berhasil dengan baik

Demikianlah al-Qur’an itu diturunkan secara bertahap karena ia akan membawa perubahan dan pembaharuan yang besar. Dia akan membawa bermacam-macam peraturan yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan. Padahal manusia tidak akan bersedia mematuhi perintah-perintah dan larangan-larangan apa pun, bila ia tidak mempunyai keimanan dan kecintaan serta rasa ketaatan kepada yang memberikan perintah dan larangan-larangan itu. Sebab itu, ayat-ayat yang mula-mula diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam masa-masa permulaan adalah diarahkan kepada pembentukan pribadi Muslim, dengan ajaran-ajaran tentang iman dan akhlak. Dan setelah rasa iman dan kecintaan kepada Allah bersemi dalam jiwa, maka timbullah rasa taat dan kesediaan untuk melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Pada saat itulah baru diturunkan ayat-ayat yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan. Semuanya itu disambut dengan hati terbuka, dan dilaksanakan dengan penuh kerelaan dan kegembiraan karena keimanan, kecintaan dan ketaatan mereka kepada Allah dan karena keyakinan mereka bahwa peraturan-peraturan yang diberikan Allah itu justru adalah untuk kemaslahatan mereka sendiri.
Perintah untuk mendirikan shalat, berpuasa, berzakat dan berhaji, serta larangan untuk berjudi, berzina, minum khamar dan sebagainya, barulah diturunkan Allah, setelah didahului dengan ajaran-ajaran tentang iman dan akhlak. Oleh sebab itu tidaklah menimbulkan kegoncangan dalam masyarakat. Akan tetapi, andaikata al-Qur’an itu diturunkan sekaligus, padahal ia membawa perintah-perintah yang masih asing bagi masyarakat, dan juga membawa larangan-larangan, padahal apa-apa yang dilarangnya itu telah menjadi kebiasaan dan kegemaran yang telah mendarah-daging bagi bangsa Arab di masa itu, seperti berzina, berjudi, dan minum khamar, niscaya beratlah bagi mereka untuk menerima dan melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan itu.
Akibatnya, akan menimbulkan rasa antipati dan keingkaran terhadap perubahan-perubahan itu, bahkan orang-orang yang tadinya telah masuk Islam, boleh jadi mereka akan lari kembali menjauhi dan menentang perkembangan agama ini. Dengan demikian teranglah, bahwa turunnya al-Qur’an secara bertahap itu berarti memberikan kesempatan sebagai suatu masa peralihan bagi kaum Muslimin, yaitu peralihan dari keadaan yanng lama kepada keadaan yang baru, sementara menanam dan memupuk keimanan yang kuat dan akhlak yang luhur dalam setiap pribadi. Ini adalah benar-benar suatu hikmah kebijaksanaan yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang ingin mengadakan perubahan dan pembaharuan dalam masyarakat manapun juga.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW secara mutawatir. al-Qur’an tersebut diterima Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun / 22 tahun 2 bulan 22 hari. Al-Qur’an juga diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, yaitu dengan perantara Malaikat Jibril, secara langsung ( melalui mimpi maupun dari Allah langsung ). Ada juga tahap-tahap dalam penurunan Al-Qur’an, yaitu : Tahap pertama, Al-Qur’an diturunkan ke lauhul mahfuzh.pada tahap ini Al-Qur’an diturunkan dengan cara dan pada waktu yang tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT sendiri. Tahap Ke-dua Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia. Al quran diturunkan kepada nabi muhammad saw.Pada tahap yang terakhir ini, al quran diturunkan dari langit dunia kedalam hati nabi muhammad saw melalui malaikat jibril secara berangsur angsur. Terdapat banyak hikmah yang dapat diambil dan dipelajari dari penurunan al-Qur’an secara mutawatir yang telah dijelaskan di atas.

B.       PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca. Kami mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas, dan kurang dimengerti. Dan kami juga sangat menerima saran dan kritik dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Sekian penutup dari kami semoga dapat diterima di hati dan kami mengucapkan terima kasih.



ASKING AND GIVING OPINION

Dear smart readers,  The following are the essential materials and activities of " Asking and Giving Opinion " Pre-Test of Asking ...