Minggu, 01 Mei 2016

ARTIKEL ILMIAH

MENGENANG SEJARAH DENGAN MENGUNJUNGI MUSEUM RANGGAWARSITA
Rizky Harmiyanti
1403046052
UIN Walisongo Semarang
Rizkyharmiyanti@gmail.com




            Museum Ranggawarsita merupakan salah satu museum di Jawa Tengah yang menyajikan ribuan aset-aset sejarah. Museum ini terletak di jalan Abdurrahman Saleh No.1 Semarang, kurang lebih 4 km dari pusat kota ke arah barat, tepatnya di sebelah bundaran Kalibanteng. Nama museum ini berasal dari nama pujangga Jawa yang sangat terkenal akan hasil karyanya dalam bidang kebudayaan, yaitu beliau Bapak Ranggawarsita. Setiap pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp. 4000,00 untuk dewasa dan Rp. 2000,00 untuk kalangan anak-anak. Museum ini layak dikunjungi oleh seluruh lapisan masyarakat baik lokal maupun nasional karena memberikan banyak ilmu pengetahuan, terutama tentang sejarah yang ada pada masa silam.
Inti dari Koleksi Museum
            Terdapat empat gedung utama di dalam museum Ranggawarsita, masing-masing terdiri dari dua lantai. Gedung A memiliki banyak koleksi tentang palaeobotanika seperti, rekonstruksi keadaan hutan purba dan fosil kayu; palaeontologika seperti peta cagar budaya Sangiran dan fosil-fosil; paleozoologi seperti fosil tulang gajah purba, fosil tulang kepala banteng, rekonstruksi evolusi gajah, rekonstruksi kehidupan mamalia purba, juga biawak dan bunglon yang sudah diwetkan; geologi yaitu lapisan tanah dan batuan (batu kristal putih dan kecubung); dan yang terakhir ada palaeoantropologi yang membahas tentang manusia purba.
            Gedung B memiliki aset sejarah peradaban kebudayaan seperti kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam. Adapun koleksinya seperti peralatan yang digunakan pada zaman dahulu seperti nekara, keramik lokal maupun asia. Ada juga koleksi keris, wayang dan rumah adat tradisional Kudus yang masih diminati oleh penggemarnya sampai saat ini. Selain itu juga terdapat replika Durga, Arca Gajah, Candi Kalasan, Candi Borobudhur dan Candi Prambanan. Banyak juga sejarah tentang kebudayaan Islam seperti sejarah dan replika Masjid Agung Demak, Maket Menara Masjid Kudus juga Replika Masjidnya, Mimbar Khotbah Masjid Ki Ageng Selo dan Al-Quran.
            Tidak kalah menariknya dengan gedung B, gedung C juga memiliki banyak dokumentasi tentang sejarah perjuangan bangsa seperti suasana perjanjian renville, demonstrasi menuntut tritura dan penyerahan anggota TKR yang ditawan oleh Belanda di Jawa Timur. Selain itu juga terdapat ukiran-ukiran, batik, replika properti di dalam rumah meliputi meja makan, replika tempat duduk saat perkawinan.
            Gedung yang terakhir yaitu Gedung D. Adapun koleksi yang dimiliki antara lain pakaian adat tradisional, gamelan dan properti yang terbuat dari emas.
Analisa Terhadap Koleksi Museum
            Setelah dilakukannya penelitian oleh penulis pada tanggal 24 April 2016, museum Ranggawarsita merupakan museum yang memiliki koleksi cukup lengkap dibanding dengan museum lain yang ada di Jawa Tengah, seperti yang telah dipaparkan oleh penulis diatas. Namun, sangat disayangkan karena penulis tidak dapat melihat keseluruhan koleksi yang terdapat di dalam museum dikarenakan adanya renovasi dan keperluan peminjaman untuk pameran di suatu tempat.  
Representasi Kandungan Islam dan Budaya Jawa
            Dengan ditampilkannya aset-aset sejarah pada masa lampau, kita dapat memperoleh kandungan makna yang begitu bermakna di dalamnya. Seperti makna yang terkandung pada Masjid Menara Kudus, masjid ini merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu-Jawa. Masjid ini terlihat seperti sebuah candi, karena waktu Islam masuk pada zaman tersebut, masarakat dipengaruhi kebudayaan Hindu dan Budha dengan kuatnya. Dengan adanya akulturasi budaya dalam pembuatan Menara Kudus tersebut, masyarakat terdorong untuk menerima agama Islam yang begitu menghargai akan budaya.    
            Selain Masjid Menara Kudus, Masjid Demak juga merupakan hasil akulturasi Islam dan Hindu. Dengan dibuktikan dengan wujud arsitekturnya, bangunan yang runcing ke atas dan atap-atap penopangnya yang begitu kuat dan besar. Uniknya, motif hias yang terdapat pada tiangnya ini diperkirakan berhubungan dengan kerajaan Majapahit. Selain itu, konon katanya masjid ini merupakan tempat berkumpulnya para wali (Wali Songo).
Kritik Budaya Jawa
            Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai kebudayaan, khususnya kebudayaan Jawa. Akan tetapi, tidak semua warga negaranya mengenal kebudayaan dan sejarah-sejarah yang terkandung di dalamnya. Seiring dengan perkembangan zaman dan arus globalisasi, masyarakat mulai melupakan kebudayaannya sedikit demi sedikit. Banyak sekali kebudayaan yang kita miliki dan kebudayaan tersebut memiliki ciri khas dan nilai tersendiri. Sudah sepatutnya kita sebagai warga negara menjaga dan mengembangkan budaya tersebut.
Kesimpulan
            Akhirnya, begitu beragamnya kebudayaan yang ada pada negara kita, karena kebudayaan mencerminkan ciri khas setiap daerah. Dengan adanya koleksi di museum, penulis berharap budaya yang kita miliki dapat dikenang, dijaga dan dikembangkan oleh generasi penerus bangsa.

#UINpeduliJawa























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASKING AND GIVING OPINION

Dear smart readers,  The following are the essential materials and activities of " Asking and Giving Opinion " Pre-Test of Asking ...