MENGENANG SEJARAH DENGAN MENGUNJUNGI MUSEUM RANGGAWARSITA
Rizky Harmiyanti
Museum
Ranggawarsita merupakan salah satu museum di Jawa Tengah yang menyajikan ribuan
aset-aset sejarah. Museum ini terletak di jalan Abdurrahman Saleh No.1
Semarang, kurang lebih 4 km dari pusat kota ke arah barat, tepatnya di sebelah
bundaran Kalibanteng. Nama museum ini berasal dari nama pujangga Jawa yang
sangat terkenal akan hasil karyanya dalam bidang kebudayaan, yaitu beliau Bapak
Ranggawarsita. Setiap pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp. 4000,00
untuk dewasa dan Rp. 2000,00 untuk kalangan anak-anak. Museum ini layak
dikunjungi oleh seluruh lapisan masyarakat baik lokal maupun nasional karena
memberikan banyak ilmu pengetahuan, terutama tentang sejarah yang ada pada masa
silam.
Inti dari Koleksi Museum
Terdapat empat
gedung utama di dalam museum Ranggawarsita, masing-masing terdiri dari dua
lantai. Gedung A memiliki banyak koleksi tentang palaeobotanika seperti,
rekonstruksi keadaan hutan purba dan fosil kayu; palaeontologika seperti peta
cagar budaya Sangiran dan fosil-fosil; paleozoologi seperti fosil tulang gajah
purba, fosil tulang kepala banteng, rekonstruksi evolusi gajah, rekonstruksi
kehidupan mamalia purba, juga biawak dan bunglon yang sudah diwetkan; geologi
yaitu lapisan tanah dan batuan (batu kristal putih dan kecubung); dan yang
terakhir ada palaeoantropologi yang membahas tentang manusia purba.
Gedung B memiliki
aset sejarah peradaban kebudayaan seperti kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam.
Adapun koleksinya seperti peralatan yang digunakan pada zaman dahulu seperti
nekara, keramik lokal maupun asia. Ada juga koleksi keris, wayang dan rumah
adat tradisional Kudus yang masih diminati oleh penggemarnya sampai saat ini.
Selain itu juga terdapat replika Durga, Arca Gajah, Candi Kalasan, Candi
Borobudhur dan Candi Prambanan. Banyak juga sejarah tentang kebudayaan Islam
seperti sejarah dan replika Masjid Agung Demak, Maket Menara Masjid Kudus juga
Replika Masjidnya, Mimbar Khotbah Masjid Ki Ageng Selo dan Al-Quran.
Tidak kalah
menariknya dengan gedung B, gedung C juga memiliki banyak dokumentasi tentang
sejarah perjuangan bangsa seperti suasana perjanjian renville, demonstrasi
menuntut tritura dan penyerahan anggota TKR yang ditawan oleh Belanda di Jawa
Timur. Selain itu juga terdapat ukiran-ukiran, batik, replika properti di dalam
rumah meliputi meja makan, replika tempat duduk saat perkawinan.
Gedung yang
terakhir yaitu Gedung D. Adapun koleksi yang dimiliki antara lain pakaian adat
tradisional, gamelan dan properti yang terbuat dari emas.
Analisa Terhadap Koleksi Museum
Setelah
dilakukannya penelitian oleh penulis pada tanggal 24 April 2016, museum
Ranggawarsita merupakan museum yang memiliki koleksi cukup lengkap dibanding
dengan museum lain yang ada di Jawa Tengah, seperti yang telah dipaparkan oleh
penulis diatas. Namun, sangat disayangkan karena penulis tidak dapat melihat
keseluruhan koleksi yang terdapat di dalam museum dikarenakan adanya renovasi
dan keperluan peminjaman untuk pameran di suatu tempat.
Representasi Kandungan Islam dan Budaya Jawa
Dengan ditampilkannya aset-aset sejarah pada masa lampau, kita
dapat memperoleh kandungan makna yang begitu bermakna di dalamnya. Seperti makna
yang terkandung pada Masjid Menara Kudus, masjid ini merupakan hasil akulturasi
budaya Islam dan Hindu-Jawa. Masjid ini terlihat seperti sebuah candi, karena
waktu Islam masuk pada zaman tersebut, masarakat dipengaruhi kebudayaan Hindu
dan Budha dengan kuatnya. Dengan adanya akulturasi budaya dalam pembuatan
Menara Kudus tersebut, masyarakat terdorong untuk menerima agama Islam yang
begitu menghargai akan budaya.
Selain Masjid
Menara Kudus, Masjid Demak juga merupakan hasil akulturasi Islam dan Hindu.
Dengan dibuktikan dengan wujud arsitekturnya, bangunan yang runcing ke atas dan
atap-atap penopangnya yang begitu kuat dan besar. Uniknya, motif hias yang
terdapat pada tiangnya ini diperkirakan berhubungan dengan kerajaan Majapahit.
Selain itu, konon katanya masjid ini merupakan tempat berkumpulnya para wali
(Wali Songo).
Kritik Budaya Jawa
Indonesia
merupakan negara yang memiliki berbagai kebudayaan, khususnya kebudayaan Jawa.
Akan tetapi, tidak semua warga negaranya mengenal kebudayaan dan
sejarah-sejarah yang terkandung di dalamnya. Seiring dengan perkembangan zaman
dan arus globalisasi, masyarakat mulai melupakan kebudayaannya sedikit demi
sedikit. Banyak sekali kebudayaan yang kita miliki dan kebudayaan tersebut
memiliki ciri khas dan nilai tersendiri. Sudah sepatutnya kita sebagai warga
negara menjaga dan mengembangkan budaya tersebut.
Kesimpulan






















Tidak ada komentar:
Posting Komentar